Dibawah
pohon rindang samping dekanat kampusku, aku terduduk dan melamun, keteduhan dan
ketenangan membuat khayalku terbang jauh melintasi demensi waktu, lalu menarik
garis perjalanan dari titik mula aku beranjak,.
Di
sekolah dasar kampung yang sembarang waktu bisa roboh, di pelosok desa nan jauh
dari kota: Desa Sonomartani. Dari situlah asal muasalku, dari satu masyarakat
terbelakang yang sangat rendah minat terhadap sekolah, yang kadang merasa
kelaparan diantara buah sawit yang berlimpah ruah. Menderes pohon karet,
menjarah kopra, menyerai madu, menangguk ikan, memunguti butir-butir buah sawit
yang bertebaran di bawahnya guna untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Dan
di sini kini aku tertegun, terkesima akan misteri kebesaran Ilahi. Sebab tidak
ku temukan satu penjelasanpun bagaimana detik ini aku bisa berada di sini,
pusat pendidikan se-provinsi sumatera utara: USU bertemu dengan wajah-wajah baru
penuh semangat masa depan.
Jika
dulu aku tak pernah berani bermimpi setinggi-tingginya, jika dulu aku tak
menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat kampungku, aku
dapat melihat diriku dengan terang hari ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam
kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang skop menghadapi tumpukan buah
sawit, menghela nafas, mengumpulkan tenaga memeras keringat dari pagi hingga
maghrib…
“Aku menolak semua itu.!!
“Aku menolak perlakuan buruk nasib terhadap masyarakat kampungku..!!”
Kini
Allah telah memeluk mimpiku. Detik ini dijantung kota medan, didalam fakultas
ilmu budaya USU aku telah merdeka, tak goyah, dan tak pernah sedetikpun untuk menyerah.
Disini atas nama kampungku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku
saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki, bahwa ia akan memihak pada sang“p
e m b e r a n i”..
Medan , 12 mei 2012
Di kampus tercinta, FIB USU.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar