Kamis, 10 April 2014

Garis Waktu (teras kenangan)



Dibawah pohon rindang samping dekanat kampusku, aku terduduk dan melamun, keteduhan dan ketenangan membuat khayalku terbang jauh melintasi demensi waktu, lalu menarik garis perjalanan dari titik mula aku beranjak,.
Di sekolah dasar kampung yang sembarang waktu bisa roboh, di pelosok desa nan jauh dari kota: Desa Sonomartani. Dari situlah asal muasalku, dari satu masyarakat terbelakang yang sangat rendah minat terhadap sekolah, yang kadang merasa kelaparan diantara buah sawit yang berlimpah ruah. Menderes pohon karet, menjarah kopra, menyerai madu, menangguk ikan, memunguti butir-butir buah sawit yang bertebaran di bawahnya guna untuk mencukupi kebutuhan hidup.
            Dan di sini kini aku tertegun, terkesima akan misteri kebesaran Ilahi. Sebab tidak ku temukan satu penjelasanpun bagaimana detik ini aku bisa berada di sini, pusat pendidikan se-provinsi sumatera utara: USU bertemu dengan wajah-wajah baru penuh semangat masa depan.
Jika dulu aku tak pernah berani bermimpi setinggi-tingginya, jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat kampungku, aku dapat melihat diriku dengan terang hari ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang skop menghadapi tumpukan buah sawit, menghela nafas, mengumpulkan tenaga memeras keringat dari pagi hingga maghrib…
“Aku menolak semua itu.!!
 “Aku menolak perlakuan buruk nasib terhadap  masyarakat kampungku..!!”
Kini Allah telah memeluk mimpiku. Detik ini dijantung kota medan, didalam fakultas ilmu budaya USU aku telah merdeka, tak goyah, dan tak pernah sedetikpun untuk menyerah. Disini atas nama kampungku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki, bahwa ia akan memihak pada sang“p e m b e r a n i”..


                                                                                           Medan , 12 mei 2012
   Di kampus tercinta, FIB USU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar